Tampilkan postingan dengan label Dengue. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Dengue. Tampilkan semua postingan

Minggu, 07 Februari 2010

Cara Sederhana Cegah DBD

TAK hanya di musim hujan, kini demam berdarah bisa datang kapan saja. Namun, Anda jangan dulu panik. Penyakit ini sebenarnya bisa dicegah kok dengan cara yang sederhana.

Demam berdarah masih menjadi penyakit penyebab kematian yang harus diwaspadai. Biasanya penyakit yang disebabkan gigitan nyamuk aedes aegypti ini banyak berjangkit pada musim hujan. Namun, seiring perubahan lingkungan dan siklus atau daur hidup nyamuk itu sendiri, penyakit mematikan ini dapat menyerang setiap saat tanpa mengenal musim.

”Kewaspadaan tetap harus ditingkatkan pada musim penghujan karena banyak terdapat genangan air yang bisa menjadi sarang nyamuk belang aedes aegypti sebagai biang penyebar demam berdarah dengue (DBD),” ujar pakar kesehatan dari Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia, Dr Tri Yunis Miko W MSc. Nah, sebaiknya kini Anda mulai waspada, jangan sampai Anda dan keluarga terjangkit penyakit ini.

Tri Yunis mengatakan, penyakit demam berdarah merupakan penyakit infeksi yang terjadi di negara-negara tropis. “Penyakit ini ditularkan melalui vektor yaitu nyamuk aedes aegypti dan A. Albopictus,” kata dokter yang mengambil gelar epidomology di Public Health University, Manila, Filipina.

Adapun gejala DBD bisa terjadi secara mendadak dan berlangsung selama 2 sampai 7 hari. Demam pada penderita DBD sering disebut demam pelana kuda. Sebab, suhu tubuh penderita cenderung turun-naik (3 hari panas, hari ke-4 turun, dan naik lagi pada hari ke-5).

“Perubahan suhu ini sering kali mengecoh. Saat suhu tubuh anak yang awalnya tinggi kemudian menurun, si ibu mengira anaknya sudah sembuh. Padahal bisa jadi anak mengalami shock,“ tuturnya saat acara peluncuran Program “Gerakan Nasional Cegah Demam Berdarah” yang diadakan produk Baygon dari PT Johnson Home Hygiene Products (PT JHHP).

Hidup bersih dengan tidak membiarkan ada satu pun jentik nyamuk di rumah dan lingkungan sekitar merupakan upaya pencegahan terbaik. Pada dasarnya kasus DBD dapat ditanggulangi asalkan tidak terlambat mendapat pertolongan medis.

“Hanya sebagian kecil kasus DBD yang tergolong parah atau dengue shock syndrome,” ujarnya.

Fase infeksi dengue terbagi tiga, yaitu fase demam, fase kritis, dan fase penyembuhan. Pada fase demam, ibu bisa melakukan beberapa terapi demam seperti pemberian obat penurun panas, kompres hangat, dan terapi suportif melalui pemberian oralit, larutan gula garam, jus buah dan susu.

“Pastikan anak mendapat asupan cairan dengan cara minum. Jika anak bisa buang air kecil setiap 4-6 jam, itu bisa jadi indikator bahwa cairannya sudah cukup. Selain itu, ukur suhu tubuhnya setiap 4-6 jam,” sebutnya.

“Pada fase kritis umumnya penderita tidak bisa makan dan minum karena tidak nafsu makan atau muntah-muntah. Jadi, harus benar-benar dirawat,” ujarnya.

Miko menuturkan, pada fase ini jumlah cairan juga tetap harus mencukupi agar terhindar dari risiko perdarahan. Jika penderita tidak dapat makan dan minum melalui mulut (apalagi terjadi shock), maka dokter biasanya akan mengindikasikan pemberian cairan infus. “Perbanyak asupan cairan diwajibkan bagi mereka yang menderita demam berdarah,” pesan Miko.

Menjaga tubuh dari dehidrasi juga penting dilakukan agar demam tidak berkembang menjadi shock. Adapun pertanda dehidrasi berupa kulit, bibir, dan lidah menjadi kering, tampak kehausan, sudah lama tidak buang air kecil dan kelenturan kulit menurun (bila kulit dinding perut dicubit tidak bisa membal kembali). Sementara tanda-tanda kalau sudah terancam shock di antaranya nadi cepat namun melemah, berkeringat dan kulit dingin.

Pakar Entomologi Kesehatan Institut Pertanian Bogor (IPB) Dr drh Upik Kusumawati Hadi MS mengatakan, mencegah demam berdarah bisa dilakukan dari cara yang paling sederhana, yaitu pemberantasan sarang nyamuk (PSN) yang bisa dilakukan dengan kegiatan 3M PLUS yaitu menguras tempat berkembang biak jentik, menutup wadah air, mengubur kaleng dan ban bekas,dan menggunakan obat antinyamuk serta menggunakan kelambu (mosquito net) dilakukan secara sistematis, terus-menerus, dan serentak.
http://lifestyle.okezone.com
Read Full Article...>>>

Rabu, 17 Juni 2009

Dengue/dengue haemorrhagic fever

Dengue is the most common mosquito-borne viral disease of humans that in recent years has become a major international public health concern. Globally, 2.5 billion people live in areas where dengue viruses can be transmitted. The geographical spread of both the mosquito vectors and the viruses has led to the global resurgence of epidemic dengue fever and emergence of dengue hemorrhagic fever (dengue/DHF) in the past 25 years with the development of hyperendemicity in many urban centers of the tropics.

Bookmark and Share


Transmitted by the main vector, the Aedes aegytpi mosquito, there are four distinct, but closely related, viruses that cause dengue. Recovery from infection by one provides lifelong immunity against that serotype but confers only partial and transient protection against subsequent infection by the other three. There is good evidence that sequential infection increases the risk of more serious disease resulting in DHF.

DHF was first recognized in the 1950s during the dengue epidemics in the Philippines and Thailand. By 1970 nine countries had experienced epidemic DHF and now, the number has increased more than fourfold and continues to rise. Today emerging DHF cases are causing increased dengue epidemics in the Americas, and in Asia, where all four dengue viruses are endemic, DHF has become a leading cause of hospitalization and death among children in several countries.

Currently vector control is the available method for the dengue and DHF prevention and control but research on dengue vaccines for public health use is in process. The global strategy for dengue /DHF prevention and control developed by WHO and the regional strategy formulation in the Americas, South-East Asia and the Western Pacific during the 1990s have facilitated identification of the main priorities: strengthening epidemiological surveillance through the implementation of DengueNet; accelerated training and the adoption of WHO standard clinical management guidelines for DHF; promoting behavioral change at individual, household and community levels to improve prevention and control; and accelerating research on vaccine development, host-pathogen interactions, and development of tools/interventions by including dengue in the disease portfolio of TDR (UNDP/World Bank/WHO Special Programme for Research and Training in Tropical Diseases) and IVR (WHO Initiative for Vaccine Research).
FOR MORE INFORMATION
WHO Resources for prevention, control and outbreak response Dengue, Dengue Haemorrhagic fever [pdf 60kb]
WHO fact sheet
Disease Outbreak News: dengue fever
Disease Outbreak News: dengue haemorrhagic fever

Read Full Article...>>>