Minggu, 07 Februari 2010

Siasat Tepat Atasi Jerawat

PENGOBATAN jerawat pada kulit remaja tidak hanya harus telaten, namun juga harus tepat. Lama-kelamaan jerawat membandel pun akan malas lagi ”nangkring” di wajah Anda.

Barangkali tidak ada yang lebih mengganggu seorang remaja selain problem jerawat yang tumbuh bermekaran di wajahnya. Karena muncul di wajah yang pastinya terlihat di depan mata, mereka jadi tidak percaya diri dalam bergaul. Para remaja merasa kurang menarik jika berjerawat.

Yang terjadi, mereka akan malu untuk keluar rumah dengan wajah yang terlihat bintil-bintil berwarna kemerahan. Ujung-ujungnya, mati-matian mereka berusaha untuk menghilangkan jerawat di wajahnya. Namun, banyak anak muda yang ternyata mengobati jerawat dengan cara yang kurang tepat. Bukan mulus yang didapat, justru kulit mukanya makin meradang.

”Banyak tindakan atau pengobatan yang dilakukan remaja untuk mengatasi jerawat, justru merusak kulit muka,” kata dokter ahli kosmetika dr Arika Fitri Andini dalam acara diskusi dengan tema ”Kosmetika yang Tepat untuk Remaja dan Masalah Jerawat”, yang diselenggarakan House of Ristra di Jakarta, belum lama ini.

Sebelum menerangkan bagaimana mengobati jerawat yang tepat dan aman, Arika menjelaskan terlebih dahulu soal kulit. Menurut dia, kulit merupakan organ penting yang terletak paling luar dan paling luas sebagai pelindung tubuh.

Pada orang dewasa, luasnya kira- kira 2 meter persegi dan beratnya kurang lebih 15 persen dari berat badan. Jenis-jenis kulit terbagi tiga yaitu kulit normal, kering dan berminyak. Kulit normal ciri-cirinya adalah lembut, lembap, dan pori-pori terlihat namun tidak besar.

Kulit kering bercirikan di antaranya tidak lentur atau kendur, bersisik, agak kasar, dan produksi lemak sedikit. Sedangkan kulit berminyak, cirinya adalah pori-pori terlihat dan besar seperti kulit jeruk, mengilap, dan kelenjar minyak aktif. ”Pada kulit berminyak ini, biasanya lebih cepat timbul jerawat,” tuturnya.

Jerawat sendiri dapat didefinisikan sebagai peradangan yang disertai dengan penyumbatan pada saluran kelenjar minyak di kulit dan rambut. Arika mengatakan, jerawat dapat terjadi karena adanya peningkatan kadar minyak kulit, sumbatan saluran minyak dan terdapat infeksi bakteri propionibacterium acnes dan staphylococcus epididimydis.

”Problem remaja yang paling banyak memang jerawat dan noda hitam. Mereka yang telah memasuki masa remaja alias puber mulai dihinggapi jerawat. Begitu seorang anak memasuki masa puber, kelenjar keringat dan minyak akan memproduksi keduanya dalam jumlah besar. Nah, jika kelenjar itu tersumbat, timbullah jerawat,” ujarnya.

Terjadinya jerawat, lanjut dia, diawali dengan terbentuknya komedo, yaitu penyumbatan kulit yang terjadi karena penumpukan sel kulit mati dan sebum pada muara kelenjar minyak. Biasanya ditandai dengan bintik hitam pada daerah T, yaitu sekitar dahi, hidung, pipi bagian dalam, dan dagu. Jika tidak segera ditangani, komedo bisa meradang dan menjadi jerawat membandel.

Arika mengungkapkan faktor pemicu jerawat di antaranya hormon androgen yang tinggi pada remaja, keturunan, kebersihan kulit yang kurang serta penumpukan lapisan kulit mati, salah kosmetik, makanan berlemak seperti susu fullcream dan keju, makanan merangsang dan pedas, stres, kurang tidur serta rambut kotor dan berminyak.

Lalu, bagaimana sebaiknya mengatasi jerawat yang tepat dan aman? Dia menuturkan, kalau memang jerawat bertambah parah segera berkonsultasi ke dokter kulit terdekat. Jangan hanya melakukan facial di salon langganan, karena kegiatan tersebut hanya tindakan pembersihan kulit saja, namun jerawatnya tidak diberi obat.

Arika mengungkapkan tidak benar bahwa jerawat tidak boleh dikeluarkan atau dibersihkan. Yang tidak boleh adalah memencet sendiri dengan tangan, karena akan menimbulkan infeksi jika tercampur dengan bakteri. ”Biarkan dokter yang membersihkan jerawat tersebut,” katanya.

Jika ingin menyembuhkan jerawat sendiri, kata Arika, bersihkan muka dengan sabun pH-balanced atau memakai sabun sulfur. PH balanced artinya pH sabun yang dipakai harus sesuai pH fisiologis kulit kamu agar tidak terjadi iritasi atau keracunan. Jangan gunakan sabun mandi ataupun sabun bayi karena struktur kulit remaja sudah berbeda.

Lalu, gunakan scrub tiap dua kali seminggu. Juga oleskan acne lotion atau acne cream di tempat jerawat tumbuh. Biasanya banyak remaja yang melakukan chemical peeling atau pengelupasan kulit muka menggunakan bahan kimia di salon-salon. Arika tidak menganjurkan hal tersebut dilakukan lagi.

”Chemical peeling untuk kulit muka Asia seperti kita kurang cocok. Karena biasanya mereka hanya melakukan pengelotokan kulit. Percuma saja, jerawat akan balik lagi. Bahkan, kulit akan menjadi tipis dan pembuluh darah akan semakin lebar. Ini berbahaya. Gunakan scrub dua kali seminggu sudah cukup,” imbuhnya.

Jika telah sembuh, dia menganjurkan untuk menjaga kebersihan kulit. Caranya dengan rajin membersihkan muka dengan sabun nonalkalis atau pH-balanced selama dua kali sehari saat mandi. Untuk pria, dapat empat kali sehari. Untuk krim pembersih, gunakan cleansing milk atau cream untuk mengangkat sisa make up dan kotoran.

Alat untuk membersihkan sebaiknya menggunakan waslap basah, karena sisa make up dan kotoran dapat terangkat seluruhnya dan lebih hemat. ”Jangan gunakan tisu atau kapas karena pengangkatan kotoran dan sisa make up tidak maksimal. Apalagi, waslap basah bisa hemat tinggal dicuci dan dikeringkan bisa digunakan kembali,” terang Arika.

Setelah itu, kulit muka disempurnakan dengan penyegar (freshener). Banyak yang beranggapan fungsi penyegar ini adalah untuk mengangkat sisa cleansing milk atau cream. Menurut Arika, hal itu tidak benar. Fungsi freshener adalah untuk meringkaskan kembali pori-pori yang sudah terbuka lebar akibat proses pembersihan dengan sabun.

Proses selanjutnya adalah melembapkan dengan menggunakan moisturizer dan body lotion yang khusus untuk remaja. Sementara itu, untuk melindungi kulit sebaiknya hindari pengaruh buruk sinar matahari, karena sinar ultraviolet (UV) yang dipancarkan matahari dapat merusak kulit, di antaranya gunakan payung, topi lebar, dan pakaian yang tertutup saat bepergian ke luar rumah.

Selain itu, oleskan sunscreen non-praba seperti sunblock atau sun care di kulit sebagai alas foundation. Penggunaan lotion pelindung kulit ini penting sebagai upaya mencegah dampak dari sinar UV. ”Pakai sunblock jangan hanya kalau berenang, tapi gunakan sehari-hari. Tetapi pakai yang SPF 15-25 buatan Indonesia, jangan dari luar negeri karena tidak akan cocok,” ungkapnya.

Arika mengatakan, untuk membuang kulit tua atau mati serta mengangkat kotoran di permukaan kulit, lakukan pembersihan dengan menggunakan scrub cream selama dua kali dalam seminggu bagi kulit normal serta berminyak dan satu kali seminggu untuk kulit kering.

Lalu, bagaimana mengatasi noda hitam bekas jerawat? Arika menuturkan sebenarnya noda hitam akan hilang dengan sendirinya. Namun, hal itu dapat dipercepat dengan pemakaian scrub cream dan kosmetika pemutih yang aman. Sedangkan bagi yang sudah terlanjur berlubang meninggalkan bopeng/scar di wajah, dapat dilakukan tindakan dokter dengan cara electrocoagulasi, dermabrasi, atau mesotherapy.

”Nanti kulitnya akan dinaikkan kembali dengan suatu alat, sehingga kulit yang berlubang atau bopeng-bopeng akan terlihat mulus dan rata kembali.
Memang ini butuh waktu yang lama,” katanya.

Corporate Public Relation Officer House of Ristra Etika Setiawanti mengatakan, tempatnya dapat memberikan layanan terpadu dan modern dalam menangani problem kesehatan dan kecantikan kulit secara bertanggung jawab. Di sana digunakan alat medis modern yang dioperasikan dokter ahli kecantikan andal, yang terbukti aman dan efektif karena telah melalui tahap uji klinis dan bergaransi.

”Perawatan di House of Ristra dijalankan berdasarkan konsep kesehatan kulit yang mempertimbangkan tiga faktor, yaitu lingkungan alam, kulit manusia, dan kosmetiknya sendiri,” tuturnya.
http://lifestyle.okezone.com
Read Full Article...>>>

Kaitan Virginitas dengan Kanker Serviks

KANKER serviks atau leher rahim menjadi momok bagi wanita. Berbagai faktor risiko telah banyak diungkap mengapa seorang wanita bisa divonis kanker. Satu hal baru, usia kehilangan virginitas ternyata menjadi penyebabnya.

Pada akhir tahun lalu, para peneliti asal Inggris baru saja merilis penemuan baru yang mencengangkan terkait usia pertama kali wanita berhubungan seks pada risiko penyakit mematikan, yakni kanker.

Penelitian yang dilaporkan oleh BBC tersebut memaparkan kajian baru tentang kanker serviks, sebuah penyakit yang berhubungan dengan penyakit menular seksual (human papillomavirus/HPV) pada wanita. Seperti dilaporkan, kajian dilakukan pada 20 ribu wanita yang kemudian menegaskan bahwa berhubungan seks pada usia dini dapat melipatgandakan risiko pelakunya terhadap perkembangan kanker serviks kelak di kemudian hari kehidupannya.

Usut punya usut, para peneliti menyatakan bahwa wanita miskin cenderung memiliki risiko lebih tinggi terhadap kanker serviks, dibanding wanita yang lebih kaya.

Sebenarnya, bukan karena penyakit menular seksual bersikap diskriminatif. Bagaimanapun, kata para peneliti, wanita yang hidup di negara berkembang (dan wilayah miskin dari negara berkembang di mana angka lulusan sekolah menengah umum atau SMU-nya rendah, misalnya), seringkali memiliki sedikit informasi mengenai seks aman. Mereka cenderung membuat keputusan untuk melakukan seks tidak aman atau melakukan hubungan seks lebih dini daripada wanita yang hidup di daerah lebih makmur.

Kajian ini dilakukan oleh International Agency for Research on Cancer dan telah dipublikasikan di Journal of Cancer tersebut memberikan gambaran bahwa kini vaksin HPV akan semakin banyak diperlukan daripada sebelumnya.
Fitri Yulianti - Okezone
Read Full Article...>>>

Cara Sederhana Cegah DBD

TAK hanya di musim hujan, kini demam berdarah bisa datang kapan saja. Namun, Anda jangan dulu panik. Penyakit ini sebenarnya bisa dicegah kok dengan cara yang sederhana.

Demam berdarah masih menjadi penyakit penyebab kematian yang harus diwaspadai. Biasanya penyakit yang disebabkan gigitan nyamuk aedes aegypti ini banyak berjangkit pada musim hujan. Namun, seiring perubahan lingkungan dan siklus atau daur hidup nyamuk itu sendiri, penyakit mematikan ini dapat menyerang setiap saat tanpa mengenal musim.

”Kewaspadaan tetap harus ditingkatkan pada musim penghujan karena banyak terdapat genangan air yang bisa menjadi sarang nyamuk belang aedes aegypti sebagai biang penyebar demam berdarah dengue (DBD),” ujar pakar kesehatan dari Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia, Dr Tri Yunis Miko W MSc. Nah, sebaiknya kini Anda mulai waspada, jangan sampai Anda dan keluarga terjangkit penyakit ini.

Tri Yunis mengatakan, penyakit demam berdarah merupakan penyakit infeksi yang terjadi di negara-negara tropis. “Penyakit ini ditularkan melalui vektor yaitu nyamuk aedes aegypti dan A. Albopictus,” kata dokter yang mengambil gelar epidomology di Public Health University, Manila, Filipina.

Adapun gejala DBD bisa terjadi secara mendadak dan berlangsung selama 2 sampai 7 hari. Demam pada penderita DBD sering disebut demam pelana kuda. Sebab, suhu tubuh penderita cenderung turun-naik (3 hari panas, hari ke-4 turun, dan naik lagi pada hari ke-5).

“Perubahan suhu ini sering kali mengecoh. Saat suhu tubuh anak yang awalnya tinggi kemudian menurun, si ibu mengira anaknya sudah sembuh. Padahal bisa jadi anak mengalami shock,“ tuturnya saat acara peluncuran Program “Gerakan Nasional Cegah Demam Berdarah” yang diadakan produk Baygon dari PT Johnson Home Hygiene Products (PT JHHP).

Hidup bersih dengan tidak membiarkan ada satu pun jentik nyamuk di rumah dan lingkungan sekitar merupakan upaya pencegahan terbaik. Pada dasarnya kasus DBD dapat ditanggulangi asalkan tidak terlambat mendapat pertolongan medis.

“Hanya sebagian kecil kasus DBD yang tergolong parah atau dengue shock syndrome,” ujarnya.

Fase infeksi dengue terbagi tiga, yaitu fase demam, fase kritis, dan fase penyembuhan. Pada fase demam, ibu bisa melakukan beberapa terapi demam seperti pemberian obat penurun panas, kompres hangat, dan terapi suportif melalui pemberian oralit, larutan gula garam, jus buah dan susu.

“Pastikan anak mendapat asupan cairan dengan cara minum. Jika anak bisa buang air kecil setiap 4-6 jam, itu bisa jadi indikator bahwa cairannya sudah cukup. Selain itu, ukur suhu tubuhnya setiap 4-6 jam,” sebutnya.

“Pada fase kritis umumnya penderita tidak bisa makan dan minum karena tidak nafsu makan atau muntah-muntah. Jadi, harus benar-benar dirawat,” ujarnya.

Miko menuturkan, pada fase ini jumlah cairan juga tetap harus mencukupi agar terhindar dari risiko perdarahan. Jika penderita tidak dapat makan dan minum melalui mulut (apalagi terjadi shock), maka dokter biasanya akan mengindikasikan pemberian cairan infus. “Perbanyak asupan cairan diwajibkan bagi mereka yang menderita demam berdarah,” pesan Miko.

Menjaga tubuh dari dehidrasi juga penting dilakukan agar demam tidak berkembang menjadi shock. Adapun pertanda dehidrasi berupa kulit, bibir, dan lidah menjadi kering, tampak kehausan, sudah lama tidak buang air kecil dan kelenturan kulit menurun (bila kulit dinding perut dicubit tidak bisa membal kembali). Sementara tanda-tanda kalau sudah terancam shock di antaranya nadi cepat namun melemah, berkeringat dan kulit dingin.

Pakar Entomologi Kesehatan Institut Pertanian Bogor (IPB) Dr drh Upik Kusumawati Hadi MS mengatakan, mencegah demam berdarah bisa dilakukan dari cara yang paling sederhana, yaitu pemberantasan sarang nyamuk (PSN) yang bisa dilakukan dengan kegiatan 3M PLUS yaitu menguras tempat berkembang biak jentik, menutup wadah air, mengubur kaleng dan ban bekas,dan menggunakan obat antinyamuk serta menggunakan kelambu (mosquito net) dilakukan secara sistematis, terus-menerus, dan serentak.
http://lifestyle.okezone.com
Read Full Article...>>>

Senin, 01 Februari 2010

Chronic Hives Condition - How To Treat This Condition

Understand that chronic hives can be caused by many things. The itchy, swollen areas of skin are often referred to as wheals. Acute cases of hives that last for less than six weeks are usually caused by an allergen such as a food or certain medications. Long-lasting hives however are not normally an allergic reaction, and look no different to acute urticaria but can be quite painful and difficult to manage. Chronic hives, which last for six weeks or longer, accounts for up to a third of all hives cases.

The hives are caused by an inflammatory reaction in the skin, whereby capillaries in the upper dermis level of the skin leak, causing a reddish swelling. Hives are a reaction of the body to something in the environment or within the body itself. Stress and poor emotional well being has long been linked to cases of skin hives. If you are suffering from a prolonged case of chronic hives, your doctor will generally run tests to first rule out an allergic reaction, then check that the urticaria is not an auto-immune response. Recent research suggests that chronic hives may in fact be a reaction of the immune system against the skin, with uncertain cause.

Approaches to finding a hives treatment and controlling future outbreaks relate to stemming the factors that tend to exacerbate the condition. For example, scratching is a key way in which hives is encouraged to worsen, so the application of ointments can prevent the itchiness and promote healing. Other triggers of chronic hives cases include heat and friction on the skin such as that caused by constricting clothing like bras and belts. There are environmental causes of hives such as cold or sun-exposure, vibration (though less common) and inhalation of pollens and substances like pollens and dust, so avoiding these environmental triggers is important in such cases.

A hives rash can also be triggered by infections in the body, such as bladder or vaginal infections, sinus infections - even Athlete's foot may cause an outbreak. When an infection is to blame, treating it usually results in relief from the chronic hives condition too.

Some people find relief through creams and ointments while others prefer to take medications. Other medications that may be effective are antihistamines, with the drowsiness-causing antihistamines recommended for use only at night. Antihistamines suitable for daytime use include Claritin and Zyrtec, while evening medications include Benadryl and Atarax. Some antihistamines like Claritin are readily available over the counter while others are prescription only.

H2 blockers such as Zantac work on a different set of antihistamine receptors in the body. All types of antihistamine medications work by reducing the release of histamine in the skin cells, which causes the red hives. Other medical treatments include oral steroids such as Prednisone that may be used to treat chronic cases of hives that do not respond to antihistamines - however the prolonged use of steroids is not advised. Generally the dosage of oral steroids will be reduced as the hives come under control.

Very occasionally, foods are the cause of cases of chronic hives, and so allergy testing is recommended. If hives last for longer than two to three months it is a good idea to see a specialist, however unfortunately it is likely that the cause may never be found.
by: Sonya Tyler

Read Full Article...>>>

Biduran, Kaligata, atau Urtikaria

Biduran adalah gangguan berupa bentol-bentol di kulit, sangat gatal, kadang-kadang disertai rasa nyeri atau panas. Gangguan yang juga kerap disebut kaligata ini, jika parah, sering disertai bengkak di bibir, kelopak mata, dan daun telinga.

Dalam bahasa medis, biduran disebut urtikaria. Dasar terjadinya adalah alergi. Jika seorang yang sensitif terpapar bahan yang bersifat alergen, misalnya makan telur, terkena ulat bulu, dll, maka tubuhnya serta merta memproduksi senyawa kimia yang disebut histamin. Senyawa inilah yang menjadi biang rasa gatal. Histamin juga menyebabkan merembesnya cairan dari dalam pembuluh darah, sehingga menimbulkan bentol di kulit atau bengkak di bibir atau tempat lainnya.

Alergen yang dapat mencetuskan biduran banyak macamnya, bisa makanan tertentu, obat-obatan, gigitan serangga, cuaca (hawa dingin atau panas), assesoris seperti arloji, gelang, cincin, dan lain-lain. Walaupun demikian, setiap penderita biduran mempunyai jenis alergen masing-masing, misalnya terhadap udang saja, terhadap daging ayam saja, terhadap bahan karet, dan sebagainya.

Pada biduran ringan, gejala biasanya hilang sendiri tanpa pengobatan. Lain halnya jika biduran cukup berat, dibutuhkan obat minum untuk mengatasinya. Obat yang digunakan antara lain antihistamin (CTM, difenhidramin, setirizin, loratadin, interhistin, dll) atau kombinasi antihistamin dengan kortikosteroid misalnya alegi, dextafen, dexteem, dll. Setelah mengkonsumsi obat ini, umumnya gejala biduran segera hilang, tapi bukan berarti sembuh sempurna. Di lain waktu, jika terpapar alergen lagi, biduran akan muncul kembali.

Cara terbaik untuk mencegah kambuhnya biduran adalah dengan menghindari paparan alergen. Untuk itu, langkah pertama adalah mengenali bahan atau hal apa saja yang dapat memicu biduran, kemudian menghindarinya selamanya. Masalahnya, pada beberapa orang sering kali biang alergen sulit diketahui. Selain itu, ada beberapa jenis alergen yang memang sulit dihindari, misalnya hawa dingin. Untuk kasus seperti ini, sebaiknya selalu membawa obat antialergi sebagai antisipasi jika biduran menyerang.
http://www.wartamedika.com

Read Full Article...>>>

Cara Alami Sembuh Dari Sakit Tenggorokan

Jakarta, Sakit tenggorokan adalah penyakit yang bisa diderita oleh siapa saja, tidak peduli orang dewasa ataupun anak-anak. Jika sudah mengalami sakit tenggorokan maka akan berpengaruh terhadap nafsu makan orang tersebut, biasanya membuat nafsu makan berkurang.

Penyakit ini adalah peradangan akut yang terjadi pada membran selaput lendir di bagian bawah ujung tenggorokan, kemungkinan juga terjadi peradangan bagian amandel dan langit-langit mulut yang lunak. Indikasi utama pada sakit tenggorokan adalah rasa sakit ketika sedang menelan dan kadang-kadang seperti rasa panas terbakar di tenggorokan.

Penyebab penyakit ini adalah karena terlalu sering mengonsumsi minuman dingin, adanya infeksi akibat bernapas melalui mulut, alergi atau bisa juga karena sebab yang lain. Biasanya orang ketika sakit tenggorokan mengonsumsi antibiotik, padahal tidak semua sakit tenggorokan disebabkan oleh infeksi bakteri atau virus.

Berikut ini adalah beberapa pengobatan alami untuk mengatasi sakit tenggorokan, seperti dikutip dari Health, Selasa (1/9/2009):

1. Berkumur dengan jus lidah buaya dua kali sehari.
2. Berkumur dengan campuran setengah sendok teh klorofil yang dicampur dengan setengah cangkir air, berkumur sebanyak 3 kali sehari.
3. Campurkan satu sendok teh sari cuka apel, satu sendok teh lada cayenne dan 3 sendok makan madu yang dicampurkan dalam segelas air hangat, berkumurlah sesuai dengan kebutuhan.
4. Buat teh chamomile yang ditambahkan dengan 1 sampai 2 sendok teh bubuk chamomile yang dikeringkan dalam air panas, minum setiap beberapa jam sekali.
5. Iris jahe seperti koin dan letakkan dalam teko kecil, lalu seduh dengan air panas seperti membuat teh hingga warnanya coklat kekuning-kuningan. Tambahkan 3 sendok makan madu untuk membuat rasa menjadi manis, lalu minum secara perlahan-lahan.
6. Teteskan 5 tetes ekstrak biji buah anggur yang dicampurkan dengan air lalu kumur secara perlahan-lahan. Ekstrak ini berguna sebagai antimikroba dan membunuh bakteri.
7. Campurkan seperempat sari cuka apel ditambahkan seperempat madu, lalu minum setiap 4 jam sekali untuk mengurangi rasa sakit.
8. Campurkan madu dengan jus lemon dalam satu sendok makan, lalu berkumur dan biarkan berada di tenggorokan beberapa saat. Ini berguna untuk membantu mengurangi iritasi, lakukan beberapa kali dalam sehari.
9. Buat campuran jus lemon dengan satu sendok teh garam dalam secangkir air hangat, berkumurlah 3 kali sehari selama 1 menit.
10. Campurkan segelas air hangat dengan satu sendok teh garam, lalu berkumurlah beberapa kali dalam sehari.


Dengan menggunakan pengobatan yang alami, maka Anda mengurangi memasukkan zat-zat kimia yang terdapat dalam antibiotik ke dalam tubuh sehingga lebih aman. Serta mengurangi efek samping yang bisa ditimbulkan. Selamat mencoba.
http://health.detik.com

Read Full Article...>>>

Sore Throat - Home Remedy Relief

Sore throat is nothing but infection in throat causing discomfort during speech and swallowing. The main causes for a sore throat are Pollution in air or water, climate changes and could be a result of cold and fever.

Natural Relief

Use warm salt water to gargle at least twice daily early in the morning and before bedtime at night.

Add 1 tsp turmeric powder with warm milk make an excellent antibiotic for sore throats.

Boil Indian basil leaves / cumin seeds in water and use instead of water. It works wonders.

Cinnamon with milk and roasted cloves chewed slowly also relives sore throats.

Things to avoid

Chilled beverages and ice creams

Gums

Spicy foods

Hard to swallow foods that require lots of chewing

Sweets

Foods with artificial flavors and preservatives

Unhygienic water and foods.

Smoking and alcohol
by: M.Leonard Alexander
Read Full Article...>>>